Wednesday, June 16, 2010

Tradisi Maulid ala Serambi Mekkah

Masjid Baiturrahman Aceh
BANDA ACEH - Tak seperti biasa, Minggu pagi, Aris, warga Aceh Besar datang ke Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Lain dari hari biasanya, penampilan lelaki berusia 25 tahun itu bersahaja, pakai kemeja dan berpeci.
Ia bersama dua rekannya langsung meleburkan diri bersama puluhan ribu warga lainnya yang memadati pekarangan masjid kebanggaan masyarakat Aceh yang terletak di tengah kota itu. Minggu kemarin, Pemerintah Provinsi Aceh menggelar maulid akbar memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW.

”Hari ini makan siang di sini (mesjid raya), membesarkan hari lahir Nabi,” kata Aris.

Memperingati maulid, adalah tradisi turun temurun masyarakat Aceh untuk mengenang hari lahir Nabi akhir zaman. Biasanya dimulai sejak memasuki 12 Rabiul Awal tahun hijriah dan terus berlangsung hingga bulan itu berakhir.

”Membuat maulid adalah tradisi masyarakat Aceh. Lewat maulid kita bisa menegakkan syiar agama dan silaturrahmi,” kata Azman Ismail, tokoh masyarakat Aceh sekaligus panitia maulid Akbar, Minggu (16/5/2010).

Di Masjid Raya Baiturrahman, sejumlah tenda sudah tertata rapi sejak pagi tadi. Di bawahnya, bertabur aneka makanan dan buah-buahan (bahasa Aceh disebut Idang).

Idang itu dihias sedemikian rupa dengan bermotif Aceh. Ada yang dimasukkan ke dalam miniatur rumah adat Aceh (Rumhoh Aceh) atau perahu dan ditutup dengan kainsongket khas Aceh, berwarna kuning emas, penuh pernak-pernik.

Isi idang terdiri dari nasi yang sudah dibungkus dengan daun pisang, berikut aneka lauk alias menu khas Aceh seperti ayam tangkap, keumamah, kuah daging dan lainnya. Juga terselip beragam buah-buahan dan sirih, pencuci mulut khas Serambi Mekkah. Satu idang cukup untuk sepuluh orang.

Makanan itu untuk disantap bersama. Tak ada kelas kasta di sana, kaya miskin sama saja ikut menikmati dengan penuh keakraban bersama anak yatim. Usai makan bareng anak yatim juga diberi sumbangan oleh warga

Sebelum makan bersama, acara diawali dengan doa bersama dan zikir barzanji (salawat dan doa-doa berisi pujaan kepada Allah dan Nabi Muhammad). Pihak pelaksana biasanya menyewa sejumlah santri pasantren untuk membaca zikir barzanji dengan irama-irama memukau.

Tak hanya di Masjid Raya, tradisi ini juga kentara terlihat di kampung-kampung di Aceh. Nyaris tak ada Desa di provinsi yang pernah dilanda perang berkempanjangan dan tsunami 2004 silam itu yang tak membuat hajatan maulid di bulan Rabiul Awal.

Perihal memperingati maulid, para pemuda kampung selalu di depan. Di Aceh, tiap Desa ada meunasah (musala atau surau) yang jadi pusat pendidikan agama atau kemaslahatan sosial. Sebelum hari pelaksanaan, warga khususnya pemuda, ikut bersatu menyiapkan kemeriahan maulid.

Meunasah-meunasah dihias sedimikian rupa. Para wanita ikut menyiapkan aneka menu makanan untuk sajian tamu, kemudian dibawa ke meunasah dalam bentung idang di hari H untuk disantap bersama.

Kampung pemilik hajatan maulid mengundang sejumlah warga dari kampung lain untuk datang dan makan bersama secara gratis di meunasahnya. Selain lantunan zikir barzanji, biasanya, sebelum makan, para tamu juga membaca shalawat kepada Nabi Muhammad secara bersama.

Malid tak hanya meriah di siang hari. Sewaktu malam, warga biasanya ikut mengadakan dakwah agama dengan mengundang seorang dai. Warga dari berbagai Desa ikut nimbrung mendengar ceramah agama hingga malam larut.

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar mengatakan, maulid di Aceh tak sekedar makan-makan dan kemeriahan. ”Ada substansi besar yang terkandung di dalam maulid. Menegakkan syariah dan menjalin silaturrahmi,” katanya.

Sebagian orang yang menganut aliran Islam moderen di Aceh menilai maulid sesuatu bidah, yang tak pernah di dilakukan oleh Nabi Muhammad. Hukumnya makruh.

Namun ulama kharismatik di sana yang menjadi panutan mayoritas umat Islam di Aceh berpendapat memperingati maulid sunat hukumnya, asal jangan menjurus ke hura-hura. Maulid, menurut ulama dayah untuk kemasalahatn umat dan banyak terkandung nilai Islam di sana.

Warga Aceh yang dominan Islam, memegang pendapat kedua.Tak heran, dari dulu hingga kini, tiap bulan Rabiul Awal tahun hijriah, warga Aceh selalu memperingati maulid, memenuhi masjid-masjid dan meunasah.

Dan, nuansa islami, penuh persaudaraan menyerbak dari bumi Iskandar Muda dalam lantunan zikir-zikir barzanji.